Ads 468x60px

Showing posts with label Mikrobiologi. Show all posts
Showing posts with label Mikrobiologi. Show all posts

Sunday, 6 April 2014

Syarat Organisme sebagai Indikator Pencemaran Air

Organisme indikator biasanya berasal dari bakteri,
Bakteri indikator adalah bakteri yang keberadaannya di dalam air, salah satunya ialah E.coli, dimana bakteri ini memenuhi syarat untuk menjadi indikator pencemaran air yang disebabkan oleh tinja makhluk hidup,
Adapun syarat mikroorganisme sebagai indikator, yaitu:

1. Mikroba itu ada di air yang terpapar polutan, dan tidak ada di dalam air yang steril/bersih.
2. Jumlah mikroba ini selaras dengan jumlah polutan yang masuk ke dalam air.
3. Mikroba ini memiliki kemampuan hidup lebih baik dari pada bakteri patogen.
4. Organisme tidak bersifat patogen bagi manusia.
5. Organisme mempunyai sifat yang seragam dan mantap.
6. Mudah dideteksi keberadaannya dengan teknik sederhana, baik di laboratorium maupun dilapagan.
>>7

Sunday, 16 March 2014

Pembuatan Nata decoco



PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI
Judul Praktikum       : Pembuatan Nata de coco
Nama / Nim                : Neddy Ferdiansyah / 08101004016   Kelompok   : IV (Empat)
Asisten                        : Novida R Sinaga                                  Tanggal      : 25 April 2013

I. TUJUAN
Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari cara pembuatan nata decoo secara fermentasi dan untuk mengenal jenis bakteri yang berperan dalam pembuatan nata decoo.

II. LANDASAN TEORI
Nata De Coco merupakan jenis komponen minuman yang terdiri dari senyawa selulosa (dietry fiber), yang dihasilkan dari air kelapa melalui proses fermentasi, yang melibatkan jasad renik (mikrobia), yang selanjutnya dikenal sebagai bibit nata. Bibit nata sebenarnya merupakan golongan bakteri dengan nama Acetobacter xylinum. Dalam kehidupan jasad renik, bakteri dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok yaitu bakteri yang membahayakan, bakteri yang merugikan dan bekteri yang menguntungkan. Adapun yang termasuk dalam kelompok bakteri yang membahayakan antara lain adalah bakteri yang menghasilkan racun atau menyebabkan infeksi, sedangkan ternasuk dalam kelompok bakteri yang merugikan adalah bakteri pembusuk makanan. Sementara yang termasuk dalam kelompok bakteri yang menguntungkan adalah jenis bakteri yang dapat dimanfaatkan oleh manusia hingga menghasilkan produk yang berguna. Acetobacter xylinum merupakan salah satu contoh bakteri yang menguntungkan bagi manusia seperti halnya bakteri asam laktat pembentuk yoghurt, asinan dan lainnya (Anonim 2013: 1).
Nata yang dihasilkan tentunya bisa beragam kualitasnya. Kualitas yang baik akan terpenuhi apabila air kelapa yang digunakan memenuhi standar kualitas bahan nata, dan prosesnya dikendalikan dengan cara yang benar berdasarkan pada factor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan aktivitas Acetobacter xylinum yang digunakan. Apabila rasio antara karbon dan nitrogen diatur secara optimal, dan prosesnya terkontrol dengan baik, maka semua cairan akan berubah menjadi nata tanpa meninggalkan residu sedikitpun. Oleh sebab itu, definisi nata yang terapung di atas caian setelah proses fermentasi selesai, tidak berlaku lagi (Winarno 1998: 19).
Bakteri Acetobacter xylinum akan dapat membentuk nata jika ditumbuhkan dalam air kelapa yang sudah diperkaya dengan Karbon dan Nitrogen (N), melalui proses yang terkontrol. Dalam kondisi demikian, bakteri tersebut akan menghasilkan enzim akstraseluler yang dapat menyusun zat gula menjadi ribuan rantai serat atau selulosa. Dari jutaan renik yang tumbuh pada air kelapa tersbeut, akan dihasilkan jutaan lembar benang-benang selulosa yang akhirnya nampak padat berwarna putih hingga transparan, yang disebut sebagai nata (Kurniadi 1998: 21).
Air kelapa yang digunakan dalam pembuatan nata harus berasal dari kelapa yang masak optimal, tidak terlalu tua atau terlalu muda. Bahan tambahan yang diperlukan oleh bakteri antara lain karbohidrat sederhana, sumber nitrogen, dan asam asetat. Pada umumnya senyawa karbohidrat sederhana dapat digunakan sebagai suplemen pembuatan anta de coco, diantaranya adalah senyawa-senyawa maltosa, sukrosa, laktosa, fruktosa dan manosa. Dari beberapa senyawa karbohidrat sederhana itu sukrosa merupakan senyawa yang paling ekonomis digunakan dan paling baik bagi pertumbuhan dan perkembangan bibit nata. Adapun dari segi warna yang paling baik digunakan adalah sukrosa putih. Sukrosa coklat akan mempengaruhi kenampakan nata sehingga kurang menarik. Sumber nitrogen yang dapat digunakan untuk mendukung pertumbuhan aktivitas bakteri nata dapat berasal dari nitrogen organic, seperti misalnya protein dan ekstrak yeast, maupun Nitrogen an organic seperti misalnya ammonium fosfat, urea, dan ammonium slfat. Namun, sumber nitrogen anorganik sangat murah dan fungsinya tidak kalah jika dibandingkan dengan sumber nitrogen organic. Bahkan diantara sumber nitrogen anorganik ada yang mempunyai sifat lebih yaitu ammonium sulfat. Kelebihan yang dimaksud adalah murah, mudah larut, dan selektif bagi mikroorganisme lain (Hidayat 1996: 12).
Asam asetat atau asam cuka digunakan untuk menurunkan pH atau meningkatkan keasaman air kelapa. Asam asetat yang baik adalah asam asetat glacial (99,8%). Asam asetat dengan konsentrasi rendah dapat digunakan, namun untuk mencapai tingkat keasaman yang diinginkan yaitu pH 4,5 – 5,5 dibutuhkan dalam jumlah banyak. Selain asan asetat, asam-asam organic dan anorganik lain bias digunakan.  Seperti halnya pembuatan beberapa makanan atau minuman hasil fermentasi, pembuatan nata juga memerlukan bibit. Bibit tape biasa disebut ragi, bibit tempe disebut usar, dan bibit nata de coco disebut starter. Bibit nat de coco merupakan suspensi sel A. Xylinum      (Kurniadi 1998: 21).
Acetobacter Xylinum merupakan bakteri berbentuk batang pendek, yang mempunyai panjang 2 mikron dan lebar , micron, dengan permukaan dinding yang berlendir. Bakteri ini bias membentuk rantai pendek dengan satuan 6-8 sel. Bersifat ninmotil dan dengan pewarnaan Gram menunjukkan Gram negative.  Bakteri ini tidka membentuk endospora maupun pigmen. Pada kultur sel yang masih muda, individu sel berada sendiri-sendiri dan transparan. Koloni yang sudah tua membentuk lapisan menyerupai gelatin yang kokoh menutupi sel koloninya (Hidayat 1996: 12).
Bakteri ini dapat membentuk asam dari glukosa, etil alcohol, dan propel alcohol, tidak membentuk indol dan mempunyai kemampuan mengoksidasi asam asetat menjadi CO2 dan H2O. sifat yang paling menonjol dari bakteri itu adalah memiliki kemampuan untuk mempolimerisasi glukosa sehingga menjadi selulosa. Selanjutnya selulosa tersebut membentuk matrik yang dikenal sebagai nata. Factor lain yang dominant mempengaruhi sifat fisiologi dalam pembentukan nata adalah ketersediaan nutrisi, derajat keasaman, temperature, dan ketersediaan oksigen.  Bakteri Acetobacter Xylinum mengalami pertumbuhan sel. Pertumbuhan sel didefinisikan sebagai pertumbuhan secara teratur semua komponen di dalam sel hidup (Kurniadi 1998: 21).
Apabila bakteri dipindah ke media baru maka bakteri tidak langsung tumbuh melainkan beradaptasi terlebih dahulu. Pada fase terjadi aktivitas metabolismedan pembesaran sel, meskipun belum mengalami pertumbuhan. Fase pertumbuhan adaptasi dicapai pada 0-24 jam sejak inokulasi. Fase pertumbuhan awal dimulai dengan pembelahan sel dengan kecepatan rendah. Fase ini berlangsung beberapa jam saja. Fase eksponensial dicapai antara 1-5 hari. Pada fase ini bakteri mengeluarkan enzim ektraselulerpolimerase sebanyak-banyaknya untuk menyusun polimer glukosa menjadi selulosa (Hidayat 1996: 12).

III. CARA KERJA

1.      Pembuatan Starter
Disiapkan alat dan bahan yaitu air kelapa, gula pasir, amonium sulfat, dan asam asetat glasial.  Disaring air kelapa dengan kain saring lalu di masukkan ke dalam panci dan di tambahkan gula pasir 10%, amonium sulfat 0,5% lalu di didihkan.  Setelah itu di dinginkan dalam suhu kamar.  Ditambah asam asetaa glasial 7,5 ml, di masukkan larutan ke dalam wadah.  Lalu di tambahkan biakan Acetobacter xylinum 10%.   Di tutup dengan kain kasa steril, dan di inkubasi selama 3 hari.


2.      Persiapan Media             
 Di siapkan alat dan bahan, air kelapa di saring lalu di tambahkan gula pasir 10%, di tambahkan amonium sulfat 0,5% dan di didihkan.   Dinginkan sampai mencapai suhu kamar.  Di masukkan ke dalam wadah dengan tinggi 3 cm, di tutup dengan kain kasa lalu di inkubasi selama 14 hari, di jaga supaya tidak tergoncang.

Laporan Mikrobiologi

Deteksi Bakteri Amilolitik dan Proteolitik



LEMBAR HASIL KERJA
PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI
Judul Praktikum       : Deteksi Bakteri Amilolitik dan Proteolitik
Nama / Nim                : Neddy Ferdiansyah / 08101004016   Kelompok   : IV (Empat)
Asisten                        : Novida R Sinaga                                 Tanggal      : 18 April 2013
I. TUJUAN
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui ciri-ciri bakteri pada medium yang mengandung amilum dan untuk mengetahui ciri-ciri bakteri proteolitik pada medium yang mengandung protein (protein susu).

II. LANDASAN TEORI
Rumen merupakan tabung besar dengan berbagai kantung yang menyimpan dan mencampur ingesta bagi fermentasi mikroba. Kerja okstansif bakteri dan mikroba terhadap zat-zat makanan menghasilkan pelepasan produk akhir yang 7dapat diasimilasi. Papila berkembang dengan baik, sehingga luas permukaan rumen bertambah 7 kalinya. Dari keseluruhan asam lemak terbang yang diproduksi 85 % diabsorbsi dari epitel retikula rumen (Suriawiria 1990: 163).
Bakteri proteolitik merupakan mikroorganisme yang memproduksi enzim protease ekstraselluler, yaitu enzim pemecah protein yang diproduksi didalam sel kemudian dilepaskan keluar dari sel tetapi tidak semua mempunyai enzim protease ekstraselluler. Bakteri proteolitik 7dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok, kelompok pertama bakteri aerobik atau anaerobik akultati, tidak membentuk spora, misalnya pseudomonas dan proteus, kelompok kedua bakteri aerobik dan anaerobik fakltatif membentuk spora misalnya basillus, kelompok ketiga yaitu bakteri anaerobik pembentuk spora misalnya clostridium (Waluyo 2008: 164).
Bakteri amilolitik merupakan mikroorganisme yang mampu memecah pati menjadi senyawa yang lebih sederhana, terutama dalam bentuk glukosa. Kebanyakan mikroorganisme amilolitik tumbuh subur pada bahan pangan yang banyak mengandung karbohidrat (Gunawan 2013: 1).
Kondisi dalam rumen adalah anaerobik, dan mikroorganisme yang paling sesuai dan dapat hidup dapat ditemukan didalamnya. Tekanan osmose pada7 rumen mirip dengan tekanan aliran darah. Temperatur dalam rumen adalah 38-420C, kurang lebih tetap dan pH dipertahankan oleh adanya absorpsi asam lemak dan amonia. Saliva yang masuk ke dalam rumen berfungsi sebagai buffer dan membantu mempertahanan pH tetap pada 6,8. Hal ini disebabkan oleh tingginya kadar ion HCO3 dan PO4   (Arora 1999: 10).
Rumen hewan pemamah biak mencerna makanan yang mengandung selulosa dan polisakarida melalui sistem lambung dengan bantuan mikroba. Karena didalam sistem lambung tersebut tidak tersedia enzim pemecah selulosa dan menyebabkan terjadinya jalinan kehidupan seperti simbiosis antar mikroba penghasil selulosa dengan sistem lambung hewan tersebut. Makanan hewan yang berupa rumput-rumputan dan jenis daun-daunan yang lainnya. Bahan tersebut sebagian besar ter7susun oleh polisakarida tananian dan selulosa yang tidak larut dalam air, tetapi dengan bantuan enzim yang dihasilkan oleh sekelompok mikroba, maka bahan-bahan tersebut dapat dicerna dan dimanfaatkan dalam proses-proses metabolisme tubuh hewan (Suriawiria 1999: 163).
Selulosa, hemiselulosa, dan pektin dapat dicerna dengan baik sedangkan lignin tidak dapat dicerna sama sekali. ADF mengandung 15 % pentosan yang disebut “micellar protein” yang kurang dapat dicerna melainkan karbohidrat jenis lainnya. Lignin mempengaruhi proses pencernaan hanya jika berada di dalam dinding sel. Hal inilah yang menyebabkan rumput dengan kandungan lignin rendah tetapi mempunyai lebih banyak dinding sel kurang dapat dicerna dibandingkan Leguminoceae yang memiliki lignin dua kali lebih banyak. Dan hal ini disebabkan Leguminoceae rata-rata mempunyai kandungan dinding sel yang lebih rendah dari pada rumput-rumputan Graminaceae (Arora 1999: 17).
Didalam rumen, spesies-spesies bakteri dan protozoa yang berbeda-beda saling berinteraksi melalui hubungan simbiosis dan menghasilkan produk-produk yang            khas seperti selulosa, hemiselulosa, dan pati. Melalui pencernaan polimer tumbuhan, bakteri-bakteri tertentu akan bertanggungjawab dalam proses fermentasi pregastris membentuk asetat, propionat butirat, CO2 dan H2. Spesies bakteri metanogenik mempergunakan CO2, H2 dan formal untuk membentuk metana. Beberapa spesies memproduksi monia dan asam lemak terbang berantai cabang dari asam-asam amino tertentu (Suriawiria 1999: 168).
Bakteri amilolitik adalah bakteri yang mampu menghidrolisis amilum menjadi gula sederhana yang mudah larut, sedangkan bakteri proteolitik adalah bakteri yang mampu menghidrolisis protein menjadi dipeptida atau bahkan menjadi asam amino yang mudah larut sehingga mudah dicerna. Berdasarkan pengertian di atas dapat diketahui bahwa bakteri amilolitik adal7ah bakteri yang mampu menghasilkan enzim amilase, sedangkan bakteri proteolitik adalah bakteri yang mampu menghasilkan enzim protease. Hal tersebut didasarkan pada kemampuan kedua bakteri tersebut dalam menghidrolisis substrat tertentu, misalnya protein dan amilum (Pelczar & Chan 2005: 56).
Kalau diketahui bahwa volume lambung sapi adalah 100 liter dan lambung kambing adalah 6 liter, maka sebenarnya dengan terjadinya proses enzimatis di dalamnya, maka lambung tersebut adalah bejana fermentasi (fermentator) alami yang menakjubkan, dengan temperatur konstan 39 0C. Bahan makanan yang memasuki bejana tersebut akan tercampur dengan mikroba fermentatif selama lebih kurang 9 jam. Selama itu bakteri selulolitik dan protozoa akan menghidrolisis selulosa menjadi disakarida-selubiose dan monosakarida glukosa (Suriawiria 1999: 163).
Faktor fisik seperti pengisian gastro intestinal menimbulkan disten si retikulo rumen dan akan membatasi konsumsi selanjutnya. Gastrin merangsang motilitas omasum dan menghambat motilitas retikulo rumen, sehingga konsumsi pakan akan menurun. Beberapa pakan tertentu kurang palatabilitasnya dibandingkan paka lainnya, hal ini akan membatasi konsumsi pakan. Bakteri Intonindra dan Ophroyosculex yang berfungsi memecah protein dalam rumen mempunyai dua enzim proteolitik, yaitu protinase dan peptidase. Bakteri proteolitik yang dapa7t diidentifiksi dalam rumen adalah Bacteriodes, Amylophilus, Peptostreptococcus. Sebagian besar galur bakteri tersebut memiliki aktivitas eksopeptidase (Arora 1999: 9-10).
III. CARA KERJA

1.      Pembuatan suspensi cairan rumen sapi
Larutan garam fisiologis sebanyak 9 ml dalam tabung reaksi diinokulasi dengan 1 gram kotoran rumen, selanjutnya dihomogenkan menggunakan super mixer kurang lebih 1 menit. Setelah homogen dibuat pengenceran sampai 10-3.

2.      Inokulasi suspensi cairan rumen ke media uji
Pada pengenceran 10-3 diambil 0,1 ml diinokulasi kedalam medium Starch Agar dan diratakan menggunakan drigal sky. Dlakukan inokulasi yang sama kedalam medium Skim Milk Agar. Masing-masing diinkubasi pada suhu 370C selama 2 x 24 jam. Setelah diinkubasi ditambahkan iodium lugol pada koloni yang tumbuh pada permukaan medium Starch7 Agar, diamati apakah terdapat koloni yang dikelilingi zona jernih. Pada medium Skim Milk Agar juga diamati apakah terdapat koloni yang dikelilingi zonaa jernih.
Laporan mikrobiologi

Sunday, 8 December 2013

Desinfeksi dan Desinfektan



LEMBAR HASIL KERJA
PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI
JudulPraktikum     : Desinfeksi dan Desinfektan
Nama / NIM          : Neddy Ferdiansyah / 08101004016       Kelompok  : V (Lima)
Asisten                   : Erni Angraini                                          Tanggal      : 29-12-2011

I.    TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan praktikum ini adalah :
Melihat pengaruh berbagai macam desinfektan terhadap pertumbuhan mikroba.

II.       LANDASAN TEORI
Zat-zat anti mikroba yang dipergunakan, baik untuk antoseptik maupun untuk desinfeksi harus terlebig dahulu diuji keefektifannya. Cara menentukan daya sterilisasi zat-zat tersebut adalah dengan melakukan tes koefisien fenol. Tes ini dilakukan untuk membandingkan aktivitas dari suatu rpoduk dengan daya bunuh fenol dalam kondisi tes yang sama. Berbagai pengenceran fenol dan produk yang dicoba, dicampurkan dengan volume tertentu. Desinfektan yang akan diuji diencerkan menurut perbandingan tertentu. Misalnya, kita membuat dua larutan fenol, yaitu (1:9) dan yang lain (1:100). Disamping itu, kita juga membuat beberapa larutan suatu desinfektan A yang akan dibandingkan khasiatnya dengan fenol (Waluyo 2005: 143).
Umumnya bakteri yang muda itu kurang daya tahannya terhadap desinfektan daripada jenis bakteri yang lebih tua. Pekat encernya konsentrasi, lamanya waktu dibawah pengaruh desinfektan merupakan beberapa faktor-faktor yang perlu dipertimbangakan pula. kenaikan yag terjadi pada temperatur menambah daya desinfektannya. Selanjutanya, medium dapat juga menawar daya desinfektan susu, plasma darah, dan zat-zat yang lain yang serupa dengan protein, sering berperan melindungi bakteri terhadap pengaruh desinfektan tertentu. Zat-zat yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan suatu bakteri dapat dibagi atas jenis garam-garam logam, fenol, dan senyawa-senyawa sejenis (Dwidjoseputro 2010: 99).
Fenol untuk pertama kalinya digunakan Lister didalam suatu ruang bedah sebagai germisida, untuk mencegah timbulnya infeksi pasca pembedahan. Pada konsentrasi yang rendah (2-4%), daya bunuhnya disebabkan karena fenol mempresipitasikan protein secara aktif, dan selain itu juga berperan merusak membran sel dengan cara menurunkan tegangan permukaannya. Senyawa fenol merupakan standar pembanding untuk menentukan aktivitas atau khasiat suatu jenis desinfektan (Anonim 2011: 1).
Alkohol merupakan zat yang paling efektif dan dapat diandalkan sabagai senyawa untuk sterilisasi dan desinfektan. Senyawa alkohol mendenaturasi protein dengan jalan dehidrasi, dan juga merupakan suatu pelarut lemak. Oleh karena itu, membran sel akan menjadi rusak, dan enzim-enzim akan diinaktifkan oleh senyawa alkohol. Etanol murni kirang daya bunuhnya terhadap suatu mikroorganisme. Jika dicampur dengan air murni, efeknya akan menjadi lebih baik. Alkohol (50-70 %) banyak dipergunakan sebagai desinfektan (Waluyo 2005: 135).
banyaknya macam sel-sel mikroorganisme yang harus dimusnahkan. Kalaupun ada suatu desinfektan yang ideal, maka zat tersebut haruslah memilikiserangakai sifat yang hebat pula. Tidaklah akan pernah dijumpai jenis satupun persenyawaan yang memiliki sifat-sifat demikian. Spesifikasi yang diuraikan dapat diusahakan untuk mencapai penyiapan jenis senyawa-senyawa antimicrobial (Pelczar 2009: 487).
Desinfektan adalah bahan yang digunakan untuk melaksanakan desinfeksi. Seringkali sebagai sinonim digunakan istilah antiseptik, tetapi pengertian desinfeksi dan desinfektan biasanya ditujukan terhadap benda-benda mati, seperti lantai, piring, pakaian. Zat-zat yang menghambat pembiakan mikroorganisme dengan tiada membunuhnya dinamakan antiseptik. Antiseptik dan desinfektan dapat merupakan zat yang sama tetapi berbeda dalam cara penggunaannya. Atiseptik digunakan pada jaringan hidup, sedangkan desinfektan digunakan untuk bahan-bahan tidak bersenyawa (Irianto 2006: 76).
III. CARA KERJA
1. Pengujian daya desinfeksi zat-zat kimia terhadap bakteri
Dibuat biakan tabur masing-masing E. coli dan S. aureus. Setelah padat dan dingin, dimasukkan secara aseptik paperdisk yang telah dicelupkan dalam masing-masing zat kimia (Iodium, Betadin, Alkohol dan Detergen). Diinkubasi selama 48 jam dan diamati diameter zona hambat.

2. Pengujian daya antibiotik
Dibuat biakan tabur masing-masing E. coli dan S. aureus. Setelah padat dan dingin, ditaruh secara aseptik paperdisk yang telah dicelupkan dalam masing-masing antibiotik (Amphicilin dan Amoxcilin). Diinkubasi selama 48 jam, diamati diameter zona hambat.

Saturday, 7 December 2013

Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum



LEMBAR HASIL KERJA
PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI
Judul Praktikum         : Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum
Nama / Nim                : Neddy Ferdiansyah / 08101004016   Kelompok   : IV (Empat)
Asisten                        : Novida R Sinaga                                  Tanggal      : 11 April 2013

I.    TUJUAN
Praktikum ini bertujuan agar mampu melakukan uji penentuan MIC suatu senyawa anti bakteri dengan bakteri uji tertentu dan agar mampu menetukan nilai MIC berdasarkan hasil uji (diameter zona hambat) yang dilakukan.

II. LANDASAN TEORI
Konsentrasi terendah dari tabng bulyen atau serum dimasukkan sebagai konsentarsi zat anti bakteri. Ada dua cara penentuan konsentrasi hambat minimum, yait cara pengjian dalam lempeng pembiakan dan cara pengenceran dalam tabung pembiakan. Subkltur dari KHM akan memperlihatkan tidak lebih dari beberapa koloni, sedangkan sbkultur dari beberapa tabung yang lebih baik atau kecil dari KHM memperlihatkan pertumbuhan subur. Tabung memperlihatkan pertumbuhan menunjukan konsentrasi zat antibakteri dengan aktivitas mematikan (Irianto 2006: 91).
Antibiotik adalah zat-zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme, dan zat-zat itu dalam jumlah yang sedikit pun mempunyai daya penghambat kegiatan mikroorganisme  yang lain. Antibiotik yamg efektif bagi banyak spesies bakteri, baik kokus, basil, maupun spiril, dikatakan mempunyai spektrum yang luas. Sebaliknya, suatu antibiotik yang hanya efektif untuk spesies tertentu, disebut antibiotik yang spektrumnya sempit. Sebelum suatu antibiotik digunakan untuk keperluan pengobatan, maka perlulah terlebih dahulu antibiotik itu diujikan efeknya terhadap spesies bakteri tertentu. Ada beberapa antibiotik yang tidak dihasilkan oleh golongan jamur, melainkan oleh golongan bakteri sendiri, misalnya tirotrisin yang dihasilkan oleh Bacillus brevis, basitrasin oleh Bacillus subtilis, polimiksin oleh  Bacillus polymyxa. Antibiotik yang pertama dikenal adalah penisilin, suatu zat yang dihasilkan oleh jamur Penicillium (Dwidjoseputro 1994 : 103).
Zat kimia akan menghambat atau mematikan mikroorganisme berkisar dari unsur logam berat, seperti perak dan tembaga sampai kepada molekul organik yang kompleks seperti persenyawaan amonium kueterner.  Mikroorganisme dapat disingkirkan, dihambat, atau dibunuh dengan sarana atau proses fisik, atau bahan kimia. Tersedia berbagai teknik dan sarana yang bekerja  menurut berbagai macam cara yang berbeda-beda dan masing-masing mempunyai keterbatasan sendiri-sendiri di dalam penerapan praktisnya. Suatu sarana fisik dapat diartikan sebagai keadaan atau sifat fisik yang menyebabkan suatu perubahan. Beberapa contoh sarana fisik ialah suhu, tekanan, radiasi, dan penyaringan. Suatu proses fisik adalah suatu prosedur yang mengakibatkan perubahan, misalnya pembakaran, sterilisasi, dan sanitasi. Suatu keadaan  yang menghambat pertumbuhan bakteri disebut bakteriostatis (Pelczar dan Chan 2005 : 486).
Toksin merupakan metabolik toksik atau senyawa beracun yang dapat berpengaruh terhadap kehidupan manusia akibat di timbulkannya tidak saja menyebabkan keracunan, sakit tetapi juga dapat menyebabkan kematian.  Hampir semua golongan mikroba dapat menghasilkan toksik, termasuk bakteri, jamur, dan mikro alga karena peranannya secar langsung terhadap kehidupan manusia untuk membasmi toksin yang di hasilkan oleh mikroba ini, maka akan di butuhkan senyawa-senyawa antimikroba (Suriawiria 1998 : 103).
Kerusakan sel-sel mikroorganisme akibat pengaruh mikrosida dapat terjadi dengan beberapa cara.  Kematian organisme tersebut dapat di sebab kan oleh denaturasi dan koagulasi.  Selain itu faktor yang mempengaruhi sterilisasi dan desinfektan adalah herbisida pengaruh oligidinamika, desinfektan, dan koefisien fenol.  Bahan anti mikrobial diartikan sebagai  bahan yang mengganggu pertumbuhan dan metabolisme mikroba. Dalam penggunaan umum, istilah ini menyatakan penghambatan pertumbuhan, dan bila dimaksudkan untuk kelompok-kelompok organisme yang khusus, maka seringkali digunakan istilah-istilah seperti antibakterial atau antifungal. Beberapa bahan antimikrobial digunakan secara khusus untuk mengobati infeksi. Ini disebut dengan bahan terapeutik (Irianto 2006 : 77).
Temperatur merupakan salah satu faktor yang paling penting di dalam kehidupan.  Beberapa jenis mikroba dapat hidup pada daerah temperatur yang luas.  Di dalam alam yang sewajarnya, jarang-jarang bakteri menemui zat-zat kimia yang menyebabkan ia sampai mati karenanya.  Setiap makhluk hidup itu sangat tergantung kepada keadaan sekitarnya, terlebih- lebih, mikroorganisme. Makhluk  hidup ini dapat menguasai faktor luar sepenuhnya, sehingga hidupnya akan sama sekali tergantung kepada keadaan sekelilingnya. Satu jalan untuk menyelamatkan diri adalah menyesuaikan diri atau beradaptasi kepada pengaruh faktor luar. Penyesuaian diri dapat terjadi secara cepat serta bersifat sementara waktu, akan tetapi dapat pula suatu perubahan ini bersifat permanan (Suriawiria 1998 : 95).
Kehidupan bakteri tidak hanya mempengaruhi bentuk morfologi tetapi akan juga dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, misalnya bakteri termogenesis yang menimbulkan panas dalam media tempat ia tumbuh. Bakteri dapat pula mengubah pH dari medium tempat ia hidup, perubahan ini disebut perubahan secara kimia. Adapun faktor  lingkungan dapat di bagi atas faktor  biotik dan faktor abiotik. Faktor biotik terdiri atas faktor  makhluk hidup sedangkan faktor abiotik (Dwidjoseputro 1998 : 97).
Zat antibakteri dapat bersifar bakterisidal atau membunuh bakteri – bakteri stati atau menghambat pertumbuhan bakteri, germisidal atau menghambat germinasi spora bakteri. Dalam kemampuan suatu zat antimikrobia dalam menghambat pertumbuhan bakteri di pengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya konsentrasi zat pengawet, jenis, jumlah, umur dan keadaan mikrobia, suhu, waktu, sifat kimia dan fisik makanan termasuk kadar air, pH, jenis dan jumlah komponen yang ada di dalamnya. Ruang lingkup bakteri yang dapat di pengaruhi zat anti bakteri disebut juga dengan spektrum antibakteri. Senyawa natibakteri di definisikan sebagai senyawa biologis atau kimia yang dapat menghambat pertumbuhan dan aktivitas suatu bakteri (Irianto 2006 : 77).
Selain faktor fisik, pertumbuhan bakteri juga dipengaruhi oleh faktor kimia, yaitu air, sumber karbon, nitrogen, sulfur, fosfor, mineral, faktor tumbuh dan bahan kimia, itu dengan menggunakan desinfektan. Desinfektan ini dapat mematikan sel vegetatif tetapi belum tentu mematikan bentik-bentuk spora mikroba penyebab penyakit. Selain dengan desinfektan juga dapat digunakan antiseptik yang melawan infeksi (Anonim 2013: 1). 

Friday, 6 December 2013

Pembuatan Media


LEMBAR HASIL KERJA
PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI
Judul Praktikum    : Pembuatan Media
Nama / NIM          : Neddy Ferdiansyah / 08101004016       Kelompok  : V (Lima)
Asisten                   : Erni Angraini                                          Tanggal      : 04-10-2011

I.                   TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan praktikum ini adalah:
Untuk mengetahui berbagai cara pembuatan medium dan membandingkan medium yang disterilisasi dan yang tanpa disterilisasi.

II.                LANDASAN TEORI
Untuk menumbuhkan dan mengembangbiakkan mikroba, diperlukan suatu substrat yang disebut media. Sedangkan media itu sendiri sebelum dipergunakan harus dalam keadaan steril, artinya tidak ditumbuhi oleh mikroba lain yang tidak diharapkan. Susunan bahan baik berbentuk bahan alami (toge, kentang, daging, tahu, wortel), atau bahn buatan (senyawa kimia organik atau anorganik) yang digunakan dan pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba dinamakan medium. Medium adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran nutrisi yang dipakai untuk menumbuhkan mikroba. Selain untuk menumbuhkan mikroba, medium dapat digunakan pula untuk isolasi, memperbanyak pengujian sifat-sifat fisiologi dari perhitungan. Jumlah mikroba yang terdapat pada media (Anonim 2011: 3).
Medium pembiakan penyubur dibuat dari medium pembiakan dasar dengan penambahan zat-zat lain untuk mempersubur pertumbuhan bakteri tertentu, yang pada medium pembiakan dasar tidak dapat tumbuhdengan baik. Untuk keperluan ini kedalam medium pembiakan dasar sering ditambahkan darah, serum, cairan tubuh, ekstrak hati, otak dan sebagainya (Irianto 2007: 124).
Medium yang di dalamnya ditumbuhi, oleh bakteri akan berarak dalam susunannya sesuai dengan kebutuhan jenis-jenis yang bersangkutan. Beberapa bakteri dapat hidup baik pada medium yang sangat sederhana yang hanya mengandung garam organik dan ditambah dengan sumber karbon organik, seperti gula. Bakteri lain memerlukan suatu medium yang sangat kompleks yang padanya ditambahkan darah atau bahan-bahan kompleks lain hampir ke semua media yang biasanya dipakai yang dapat dibeli secara komersial sebagai tabung kering (Anonim 2011: 1).
Agar mikroba dapat tumbuh dengan baik pada suatu media harus memenuhi syarat-syarat antara lain harus mempunyai tekanan osmosi, tegangan permukaan dan pada pH yang sesuai kebutuhan mikroba yang dibutuhkannya, harus mengandung semua zat hara yang mudah dipergunakan oleh mikroba, tidak mengandung zat-zat yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba, harus berada dalam keadaan steril sebelum digunakan agar mikroba yang diinginkan dapat tumbuh dengan baik (Dwidjoseputro 1998: 134).
Media agar merupakan substrat yang sangat baik untuk memisahkan campuran mikroorganisme sehingga masing-masing jenisnya menjadi terpisah-pisah. Teknik yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme pada media agar memungkinkan tumbuh dengan agak berjauhan dari sesamanya juga memungkinkan selnya berhimpun membentuk koloni. Sekelompok sel yang dapat dilihat dengan mata biasa semua sel dalam koloni itu sama, dianggap adalah suatu keturunan mikroorganisme (Anonim 2011: 3).
Media dapat digolongkan berdasarkan atas susunan kimia, sifat wujudnya dan fungsinya. Penggolongan media berdasarkan tujuan kimia, antara lain media anorganik yaitu media yang tersusun dari bahan anorganik. Media organik yaitu media yang tersusun dari bahan-bahan organik. Media sintetik yaitu media yang susunan kimianya dapat diketahui dengan pasti. Media ini biasanya digunakan untuk menumbuhkan dan mempelajari taksonomi mikroba. Penggolongan media sesuai dengan wujudnya antara lain adalah cairan, padat yang biasanya dalam bentuk bahan-bahan organik, misalkan adalah silica gel. Media padat yang biasanya dicairkan yaitu apabila dalam keadaan panas akan cair (Sutedjo 1996: 276).

Preparat Tetes Bergantung (Hanging drop)



LEMBAR HASIL KERJA
PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI
Judul Praktikum    : Preparat Tetes Bergantung (Hanging drop)
Nama / NIM          : Neddy Ferdiansyah / 08101004016       Kelompok  : V (Lima)
Asisten                   : Erni Angraini                                          Tanggal      : 04-10-2011
I.    TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan praktikum ini adalah :
            Untuk melihat pergerakan mikroorganisme.

II.    LANDASAN TEORI
            Salah satu alat untuk melihat sel mikroorganisme adalah denga mikrosop cahaya karena dengan mikroskop kita dapat mengamati sel bakteri yang tidak dapat melihat dengan mata telanjang. Pada umumnya maka tidak mampu membedakan benda dengan diameter ebih kecil dari 0,1 mm (Anonim 2009: 1).
            Mikroorganisme di pelajari di laboratorium untuk banyak tujuan. Derajat perinciaan untuk mempelajari itu bergantung pada maksud pemeriksaan laboratorium tersebut sebagai contoh seorang ahli mikro biologi mungkin hanya mau menentukan tipe utama atau tipe jasad renik yang terdapat dalam suatu spesimen harus mengidentifikasi setiap jenis dalam spesimin yang di ambil dari seorang pasien agar hasil yang diinginkan sesuai (Pelczar & Chan 2005: 68).
            Preparat tetes bergantung memungkinkan pemeriksaan organisme hidup yang tersintensi dalam zat air.Preparat ini di peroleh dengan menaruh setetes zat alir yang mengandung organisme pada kaca objek dan menutup nya dengan kaca.kaca yang sangat tipis dinamakan kaca tutup.untuk mengurangi laju penguraian dan penguapan atau meniadakan aliran udara.tetesan itu biasa nya dilingkari dengan jeli petroleom atau bahan serupa sehingga antara kaca objek dan kaca penutup tertutup rapat (Anonim 2010: 1).
            Gerakan dari bakteri dapat di bagi dua yaitu gerak aktif dan gerak pasif.Gerak pasif adalah gerak yang disebabkan dari benda-benda disekitarnya dan mengakibatkan bakteri terbawa pergerakan dari lingkungannya, sedangkan gerak aktif adalah gerak bakteri yang tidak dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya sehingga bakteri dapat bergerak bebas tanpa ada pengaruh dari lingkungannya (Anonim 2011: 2).
            Pengamatan morfologi sel bakteri secara mikroskopis memerlukan teknik dan cara khusus yaitu dengan cara pengecatan pewarnaan dan tapa pengecatan. Fungsi dari pengecatan adalah untuk member warna pada sel, membedakan satu bakteri dengan bakteri lainnya meskipun morfologinya sama dan untuk mengetahui sifat bakteri. Pengamatan bakteri tanpa pengecatan dilakukan dengan menggunakan teknik yang menggunakan kondensor khusus dan cara tetes bergantung (Pelczar 2005: 68).
            Berdasarkan cara pergerakannya mikroba dapat dibagi yaitu mikroba yang bergerak secara motil dan non motil. Mikroba motil adalah mikroba yang dapat bergerak karena mempunyai flagella, sedangkan bakteri yang non motil tidak dapat bergerak karena tidak memiliki flagella untuk dapat melihat pergerakan dari mikroba dapat dilakukan pengamatan dengan cara preparat tetesan bergantung dan keuntungan preparat tetesan bergantung ini adalah preparat ini dilindungi oleh vaselin sehingga tidak terjadi penguapan bakteri sehingga dapat juga dilihat dengan media padat (Anonim 2011: 2).
            Preparat basah dipriksa dengan mikroskop medan terang, sangatlah penting untuk menyesuaikan untuk menyesuaikan sumber cahayanya dengan benar. Intensitas cahaya dapat dikurangi dengan filter khusus mikroskopi medan gelap dan mikroskop kontras fase memberikan keuntungan khusus untuk pemeriksaan sel-sel mikroba yang tidak diwarnai yang tersuspensi dalam cairan.  Ada dua macam preparat yang bersifat basah yaitu sekapan basah dan tetes bergantung kedua macam preparat tersebut menggunakan setetes cairan yang mengandung mikroba hidup, preparat ini digunakan dalam mikrobiologi untuk pengamatan bentuk organisme seperti bakteri dan jamur (Pelczar & Chan 2005: 81). 

Pengenalan Alat Laboratorium dan Alat Sterilisasi


LEMBAR HASIL KERJA
PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

Judul Praktikum    : Pengenalan Alat Laboratorium dan Alat Sterilisasi
Nama / NIM          : Neddy Ferdiansyah / 08101004016       Kelompok  : V (Lima)
Asisten                   : Erni Angraini                                          Tanggal      : 04-10-2011

I.    TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan praktikum ini adalah :
              Untuk mengetahui prinsip kerja dan cara penggunaan mikroskop serta untuk melakukan sterilisasi terhadap alat dan medium.

II.       LANDASAN TEORI
              Makhluk hidup dibedakan menjadi dua menurut bentuk dan struktur selnya yaitu bersel satu dan makhluk hidup bersel banyak,  makhluk hidup ini tidak dapat dilihat dengan mata kita, karena panca indra manusia memiliki kemampuan daya pisah atau daya lihat yang sangat terbatas. Salah satu alat bantu yang sering digunakan dalam penelitian atau pengamatan tentang organisme yang tidak bias dilihat dengan mata, terutama dalam bidang biologi adalah mikroskop dalam bahasa latin mikro diartikan kecil sedangkan scopium berarti penglihatan (Anonim 2011: 1).
              Mikroskop merupakan salah satu alat laboratorium yang digunakan untuk membantu manusia dalam suatu penelitian ilmiah untuk melihat benda yang berukuran mikro yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang oleh manusia. Masing-masing dari jenis lensa didalamnya berisi beberaspa jenis lensa dengan susunan tertentu. Mikroskop optik yang banyak digunakan sekarang yang tersusun oleh dua lensa yakni lensa objektif dan lensa okuler (Campbell 2000: 111),
              Bakteri adalah mahkluk hidup yang kecil sehingga tidak bisa dilihat dengan mata telanjang (tanpa bantu alat pembesar) oleh manusia. Begitu juga dengan  Paramecium  dan sebagainya sehingga bantuan alat pembesar juga sangat diperlukan untuk melihat isi dari sel pada makhluk hidup. Bentuk organisme-organisme yang kecil untuk melihat jaringan yang ada di dalam tubuh organisme serta banyak lagi hal lainnya. (Anonim 2009: 2).
              Panca indra manusia memiliki kemampuan daya pisah terbatas, oleh karena itu banyak masalah mengenai benda atau organisme yang akan mati hanya dapat diperiksa dengan menggunakan alat bantu yaitu berupa mikroskop yang berfungsi untuk meningkat kemampuan daya pisah seseorang sehingga memungkinkan dapat mengamati objek yang sangat halus sekalipun(Campbell 2010: 2).
              Mikroskop pertama kali ditemukan pada tahun 1632 oleh seorang ilmuwan berkebangsaan belanda bernama Antoni Van leuwenhoek, dia berhasil membuat mikroskop berlensa tunggal yang sangat sederhana. Mikroskop yang pertama kali ditemukan ini memiliki pembesarannya dapat mencapai 270 kali dengan mikroskop ini Antoni Van Leuwenhoek dapat melihat benda kecil dalam `tetesan air sekalipun (Anonim 2010: 1).
              Sebagian besar sterilisasi kering biasanya digunakan suhu 160-1650 C selama 1 jam, cara ini baik dilakukan terhadap alat-alat kering terbuat dari kaca seperti tabung reaksi, cawan petri, labu, pipet tetes, pinset, gunting, kapas, alat suntik dari kaca, semua bahan itu harus disterilkan dalam jumlah sedikit dan dalam lapisan tipis tidak lebih dari 0,5 cm dalam cawan petri (Irianto 2006: 86).
Hingga saat ini sudah ada dua macam mikroskop yaitu mikroskop cahaya yang biasa digunakan dalam bidang penelitian dan pendidikan. Mikroskop elektron yang digunakan dalam bidang kedokteran karena mikroskop ini mempunyai pembesaran yang lebih dibandingkan mikroskop cahaya (Campbell 2000: 111).
Tujuan sterilisasi dalam mikrobiologi adalah untuk mendapatkan keadaan steril, mikroorganisme dapat dimatikan setempat oleh panas, gas-gas seperti formaldehid, etilenoksida atau beta pnolakton oleh bermacam-macam larutan kimia. Mikroorganisme juga dapat disingkirkan secara mekanik oleh sentrifugasi kecepatan tinggi atau oleh filtrasi. Pensterilan dengan uap dalam tekanan dilakukan dalam autoklaf, dalam autoklaf ini uap berada dalam keadaan jenuh dan peningkatan tekanan mengakibatkan suhu yang tercapai menjadi lebih tinggi. Suhu dapat meningkat sampai 1210 c (Irianto 2006: 75).

Cara Seo Blogger